KUMPULAN CERITA HIKAYAT
Syekh Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasehati yang berikiran sempit, mengingatkan orang yang bodoh, diajari ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya, berupa pakaian atau uang, karena itu banyak pengikutnya.
Syekh Hasan saudagar yang kaya raya, memiliki seorang anak, laki-laki yang sangat tampan, pendiam, dan baik budi, berusia sekitar tujuh tahun. Ibnu Hasan namanya.
Ibnu Hasan sedang lucu-lucuya, semua orang senang melihatnya, apalagi orang tuanya, namun demikian anak itu, tidak sombong, perilakunya kalem, walaupun hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan sandang, namun Ibnu Hasan sama suka bersolek, karena itulah kedua orang tuanya sangat menyayanginya.
Ayahnya berfikir,”Alangkah salahnya aku, menyayangi diluar batas, tanpa pertimbangan, bagaimana kalau akhirnya, dimirkai Allah Yang Agung, aku pasti durhaka, tak dapat mendidik anak, mengkaji ilmu yang bermanfaat.”
Dipanggilnya putranya. Anak itu segera mendatanginya, diusap-usapnya putranya sambil dinasihati, bahwa Ia harus mengaji, katanya “Sekarang saatnya anakku, sebenarnya aku kuatir, tapi, pergilah ke Mesir, carilah jalan menuju keutamaan.”
Ibnu Hasan menjawab,”Ayah jangan ragu-ragu, jangankan jalan menuju kemuliaan, jalan kematianpun hamba jalani, semua kehendak orang tua, akan hamba turuti, tidak akan ku tolak, siang malam hanya perintah Ayah Ibu yang hamba nantikan.”
Singkat cerita, Ibnu Hasan yang akan berangkat kepesantren, berpisah dengan kedua orangtuanya, hatinya sangat sedih, ibunya tidak tahan menangis terisak-isak, harus berpisah dengan putranya, yang masih sangat kecil, belum cukup usia.
“Kelak, apabila ananda sudah sampai, ketempat merantau, pandai-pandailah menjaga diri, karena jauh dari orang tua, harus tahu ilmunya hidup, jangan keras kepala, angkuh dan menyombongkan diri, merasa lebih dari yang lain, merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. Kalau begitu perbuatanmu, hidupmu tidak akan senangkaena dimusuhi semua orang, tidak akan ada yang mau menolong, kalau celaka tidak akan diperhatikan, berada dirantau orang, kalau judes akan mendapatkan kesusahan, hati-hatilah menjaga diri jangan menganggap enteng segala hal.”
Ibnu Hasan menjawab dengan takzim,”Apa yang Ibu katakan, akan selalu kuingat dan kucatat dalam hati, doakanah aku agar selamat, semoga jangan sampai menempuh jalan yang salah, pesan Ibu akan kuperhatikan, siang dan malam.”
Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan Mairun,mereka berangkat berjalan kaki, Mairun memikul semua perbekalan dan pakaian, sementara Mairin mengikuti dari belakang, sesekali menggantikan tugas Mairun.
Perasaan sedih prihatin, kehujanan, kepanasan, selama perjalanan yang makan waktu berhari-hari namun akhirnya sampai juga dipusat kota Negara Mesir, dengan selamat berkat do’a Ayah dan Ibunda, selanjutnya, segera Ian menemui seorang alim ulama, terus berguru padanya.
Pada suatu hari, saatba’da zuhur, Ibnu Hasan sedang di jalan, bertemu seseorang bernama Saleh, yang baru pulang dari sekalah, Ibnu Hasan menyapa,”Anda pulang dari mana?”
Saleh menjawab dengan sopan,”Saya pulang sekolah.” Ibnu Hasan bertanya lagi,” Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!” yang ditanya menjawab,”Apakah anda belum tahu?”
“sekolah itu tempat ilmu, tepatnya tempat belajar, berhitung, menulis, mengeja, belajar tatakrama, sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda, dan terhadap sesama, harus sesuai dengan aturan.”
Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, betapa girang hatinya, di segera pulang, menghadap kyai dan meminta izinya, untuk belajar disekolah, guna mencari ilmu. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu harapkan.”
Kyai berkata demikian, tujuan untuk menguji muridnya, apakah betul-betul ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian.
Ibnu Hasan menunduk, menjawab agak malu,”Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba besusah payah tanpa mengenal lelah, mencari ilmu.
Memang sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya, tidak kekurangan uang, ternaknyapun banyak, hamba tidak usah bekerja, karena tidak akan kekurangan.
Namun, pendapat hamba tidak demikian, akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada, sudah menunggal dunia, semua hartanya jatuh ketangan hamba.
Tapi, ternyata tidak terurus karena saya tidak teliti akhirnya harta itu habis, bukan bertambah. Distulah terlihat ternyata kalau hamba ini bodoh.
Bukan bertambah mashur, asalnya anak orang kaya, harus menjadi buruh. Begitulah pendapat saya karena modal sudah ada saya hanya tinggal melanjutkan.
Pangkat anakpun begitu pula, walaupun tidak melebihiorang tua, paling tidak harus sama dengan orang tua, dan tidak akan melakukan, apalagi kalau lebih miskin, ibaratnya anak seorang patih.”
Maka, yakinlah kyai itu akan bauk muridnya.
Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki berkeliling di Negeri Antah Berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan menangislah si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki. Demikian seterusnya.
Si Miskin pergi ke pasar, pulangnya membawa mempelam dan makanan-makanan yang lain. Setelah ditolak oleh isterinya, dengan hati yang sebal dan penuh ketakutan, pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. Setelah diperolehnya setangkai mangga, pulanglah ia segera. Isterinya menyambut dengan tertawa-tawa dan terus dimakannya mangga itu.
Setelah genap bulannya kandunga itu, lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama Marakarmah (=anak di dalam kesukaran) dan diasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Ketika menggali tanah untuk keperluan membuat teratak sebagai tempat tinggal, didapatnya sebuah tajau yang penuh berisi emas yang tidak akan habis untuk berbelanja sampai kepada anak cucunya. Dengan takdir Allah terdirilah di situ sebuah kerajaan yang komplet perlengkapannya.
Maharaja Indera Angkasa terlalu adil dan pemurah sehingga memasyurkan kerajaan Puspa Sari dan menjadikan iri hati bagi Maharaja Indera Dewa di negeri Antah Berantah.
Ketika Maharaja Indera Angkasa akan mengetahui pertunangan putra-putrinya, dicarinya ahli-ahli nujum dari Negeri Antah Berantah.
Atas bujukan jahat dari raja Antah Berantah, oleh para ahli nujum itu dikatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma itu kelak hanyalah akan mendatangkan celaka saja bagi orangtuanya.
Tidak lama kemudian sepeninggal putra-putrinya itu, Negeri Puspa Sari musnah terbakar.
Sesampai di tengah hutan, Marakarmah dan Nila Kesuma berlindung di bawah pohon beringin. Ditangkapnya seekor burung untuk dimakan. Waktu mencari api ke kampung, karena disangka mencuri, Marakarmah dipukuli orang banyak, kemudian dilemparkan ke laut. Nila Kesuma ditemu oleh Raja Mengindera Sari, putera mahkota dari Palinggam Cahaya, yang pada akhirnya menjadi isteri putera mahkota itu dan bernama Mayang Mengurai.
Karena cerita Nenek Kebayan mengenai putera Raja Mangindera Sari menemukan seorang puteri di bawah pohon beringin yang sedang menangkap burung, tahulah Marakarmah bahwa puteri tersebut adiknya sendiri, maka ditemuinyalah. Nahkoda kapal yang jahat itu dibunuhnya.
Selanjutnya, Marakarmah mencari ayah bundanya yang telah jatuh miskin kembali. Dengan kesaktiannya diciptakannya kembali Kerajaan Puspa Sari dengan segala perlengkapannya seperti dahulu kala.
Akhirnya, Marakarmah pergi ke negeri mertuanya yang bernama Maharaja Malai Kisna di Mercu Indera dan menggantikan mertuanya itu menjadi Sultan Mangindera Sari menjadi raja di Palinggam Cahaya.
kemudian, raja pun pergi.
Alkisah,
pada suatu hari, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid merasakan sakit perut yang tak
kunjung sembuh. Kata tabib istana, Baginda Raja terkena penyakit angina.
Penyakitnya tak parah, tapi cukup mengganggu keseharian baginda.
Ia
lalu memanggil Abu Nawas ke istananya. Sesampainya pria itu di istana, Baginda
Raja menyambutnya dengan senyuman yang lebar. Rupanya, sang raja telah
menyiapkan tugas yang cukup konyol untuk pria tersebut.
“Hai,
kau Abu Nawas. Aku punya tugas penting buatmu,” ucap sang raja.
“Wahai
Baginda Raja Harun Ar-Rasyid, tugas apakah yang akan engkau berikan pada
hamba?” jawab pria lucu itu.
“Akhir-akhir
ini aku sering merasakan sakit perut. Kata tabib istana, aku menderita penyakit
angina,” kata raja
Abu
Nawas sedikit keheranan mendengar cerita sang raja. Ia lalu bertanya, “Ampun
Baginda, kiranya apa yang bisa hamba lakukan untuk Yang Mulia?”.
“Tangkap
dan penjarakan angin itu untukku! Kau tentu bisa melakukannya, bukan?” perintah
sang raja.
Pria
yang mendapat perintah konyol dari raja ini pun terdiam sejenak. Ia merasa
bingung dengan perintah dari raja. Di sisi lain, ia tak mungkin menolak
perintah itu. Sebab, apa pun yang jadi perintah raja harus ia patuhi bila tak
mau terkena hukuman.
Setelah
berpikir sejenak, akhirnya pria ini menjawab, “Baiklah, Yang Mulia. Akan hamba
coba untuk memenjarakan angin,” ucapnya meskipun belum tahu cara untuk
menangkap benda tak kasat mata itu.
“Aku
beri kau waktu tiga hari untuk menyelesaikan tugasmu. Betapa baik hatiku,
hahaha” ucap sang raja.
“Baik,
Yang Mulia. Akan hamba segera selesaikan perintah dari Tuan,” jawabnya.
Usai
mendapat perintah dari sang raja, Abu Nawas pun pulang membawa tugas konyol
itu. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus terdiam dan mulutnya terkunci tak
mengeluarkan sepatah kata pun.
Ia
tak habis pikir dengan perintah yang Raja Harun Ar-Rasyid berikan. Ia belum
bisa memikirkan bagaimana cara menangkap dan memenjarakan angin. Menurutnya,
angin adalah benda yang tak berwarna dan tak dapat dilihat.
“Bagaimana
bisa aku menangkap angin yang bahkan tak bisa kusentuh itu?” tanyanya dalam
hati.
Dua
hari berlalu, Abu Nawas tak kunjung mendapatkan ide untuk menangkap angin,
apalagi harus memenjarakannya. Ia hampir putus asa. Bahkan, ia tak dapat tidur
dengan tenang. Ditambah lagi, waktu yang Baginda Raja tentukan hanya kurang 1
hari lagi.
“Apa
yang harus kuperbuat? Besok adalah hari terakhir. Tapi, aku tak kunjung
mendapatkan ide,” ucapnya dalam hati.
Ia
mondar-mandir memikirkan cara untuk memenjarakan angin. Saking bingungnya,
dalam hati, ia sempat menyerah dan berserah pada hukuman yang akan dirinya
dapatkan esok hari.
Ketika
malam datang, tiba-tiba ia mendapatkan ide yang sangat cemerlang. “Bukankah
angin itu tidak terlihat? Raja juga tak dapat melihatnya, bukan?” ucapnya dalam
hati sambil bergegas menyiapkan alat-alat yang ia butuhkan untuk menyelesaikan
tugasnya.
Saat
pagi tiba, ia berjalan dengan yakin ke istana. Ia membawa sebuah botol kosong.
Tak nampak apa pun di dalam botol itu. Ia lalu menemui Baginda Raja yang
rupanya juga telah menunggu kedatangannya.
“Kau
sudah menyiapkan tugas yang kuperintahkan padamu?” tanya sang raja.
“Tentu
sudah, Yang Mulia,” kata Abu Nawas sambil menyerahkan sebuah botol kosong pada
Baginda Raja.
“Mana
anginnya?” tanya Baginda.
“Ada
di dalam botol ini, Yang Mulia,” jawab pria cerdas itu dengan senyuman.
“Benarkah?
Kenapa aku tak bisa melihat apa-apa?” tanya Baginda Raja kebingungan.
“Ampun
Baginda, siapa pun tak akan bisa melihat angin. Akan tetapi, jika ingin tahu
angin, Tuan harus membuka tutup botol tersebut terlebih dahulu,” jawab Abu
Nawas meyakinkan sang raja.
Setelah
membuka tutup botol, Baginda Raja mencium bau busuk. Ia lalu murka kepada pria
yang membawa botol tersebut. “Bau busuk apa ini? Kau mau meracuniku?” bentak
sang raja.
“Ampun
Baginda. Tadi hamba buang angin. Lalu, hamba masukkan dalam botol itu. Karena
takut anginnya keluar, maka hamba memenjarakannya dengan menutup botol ini.
Dengan begitu, hamba bisa menyelesaikan tugas dari Tuan,” jawab pria cerdik
ini.
Mendengar
penjelasan pria itu, Baginda Raja tak jadi marah. Ia merasa perkataan Abu Nawas
sangat masuk akal. Karenanya, Baginda Raja tak menghukum pria itu dan justru
memberikannya sebuah hadiah.
“Aku ingin pinjam pensil dan selembar kertas. Aku ingin menulis surat untuk istriku. Aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting yang hanya boleh diketahui oleh istriku saja.”
Abu Nawas mengerjai Baginda Raja.
“Apa itu wahai Abu Nawas?” tanya Baginda langsung tertarik.
“Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas meyakinkan.
“Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya.” kata Baginda Raja tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Tetapi Baginda … ” kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tetapi apa?” tanya Baginda tidak sabar.
“Bila Baginda tidak menyamar sebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu.” kata Abu Nawas.
Karena begitu besar keingintahuan Baginda Raja, maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas.
Setibanya di hutan Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon yang rindang dan memohon Baginda Raja menunggu di situ. Sementara itu Abu Nawas menemui seorang badui yang pekerjaannya menjuai budak. Abu Nawas mengajak pedagang budak itu untuk melihat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan bahwa sebenarnya calon budak itu adalah teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas tidak tega menjualnya di depan mata. Setelah pedagang budak itu memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan surat kuasa yang
menyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu.
“Aku adalah tuanmu sekarang.” kata pedagang budak itu agak kasar.
“Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya.” kata pedagang budak dengan kasar.
“Ya!” bentak pedagang budak.
“Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?” tanya Baginda geram.
“Tidak dan itu tidak perlu.” kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk membelah kayu.
1. Jangan tamak
2. Mendengar nasihat orang lain
3. Jangan berdendam
Pada suatu hari, atas ajakan dan hasutan temantemannya, Nurdin melakukan perbuatan yang
tidak terpuji, yaitu minum-minum bersama temantemannya hingga mabuk. Mengetahui hal itu,
ayahnya sangat marah dan Nurdin akan dihukum keesokan harinya. Mengetahui putranya akan dihukum, diam-diam ibunya memberitahu Nurdin dan menyuruhnya pergi malam itu juga agar tidak
kena hukuman ayahnya. Dengan berbekal uang seribu dinar pemberian ibunya, pergilah Nurdin
ikut sebuah kapal yang kebetulan berlayar ke Iskandariah, Nurdin bertemu Mansur dan ikut
tinggal di rumahnya. Nurdin dinasihati untuk berniaga dengan uang yang dibawanya.
Pada bagian selanjutnya, dikisahkan ada sebuah kerajaan besar bernama Pranja. Raja Pranja
mempunyai empat orang anak, satu di antaranya seorang putri bernama Mariam Zanariah. Mariam
Zanariah terkenal cantik jelita dan pandai dalam berbagai hal sehingga ayahnya berjanji akan
membawanya belajar kepada seorang pendeta.
Ketika tiba saatnya, Mariam Zanariah diantar oleh menterinya untuk belajar kepada pendeta dengan
naik sebuah kapal. Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh penyamun. Banyaklah pengiring
yang terbunuh dan ada yang melarikan diri. Mariam sendiri dirayu dan akan dijadikan istri oleh kepala penyamun. Mariam menerima ajakan itu dengan syarat bertanding terlebih dahulu dengannya.
Kepala penyamun berhasil dikalahkan. Dan Mariam melarikan diri ke hutan dengan menunggang seekor kuda. Selama empat hari di dalam hutan, Mariam merasa lapar dan berjumpa dengan penyamun bangsa Badui. Mariam berpura-pura mengaku seorang Badui yang sedang mencari kawan untuk menghadang kafilah besar. Selamatlah Mariam, kemudian dia diajak ke rumah para penyamun itu untuk makan bersama. Setelah itu, rombongan itu berangkat ke sebuah bukit dan dilihatlah rombongan kafilah yang sedang berjalan. Mariam mengajak.
Badui untuk menghadang kafilah itu. Terjadilah peperangan, para penyamun badui pun kalah.
Sampai di Iskandariah, Mariam dibawa pulang oleh Maghribi. Melihat suaminya pulang membawa
perempuan cantik, istri Maghribi mencela dan menghajar Mariam. Diperlakukan kasar oleh istri
Maghribi, Mariam segera hendak membalas. Untung datang Maghribi yang membawa istrinya pergi.
Akhirnya, tinggallah Mariam seorang diri di rumah itu. Dalam kesendiriannya itu, Mariam putus asa
dan mau bunuh diri. Sebelum terlaksana niatnya itu, terdengar orang ramai mendatangi rumah Maghribi yang menghendaki agar Mariam dilelang saja dan uangnya dibagi rata.
Pada hari itu juga, dibawalah Mariam ke pasar. Singkat cerita, Nurdinlah yang berhasil mendapatkan cintanya dengan membelinya dari Maghribi 1000 dinar. Mariam pun dibawa pulang ke rumah Mansur dan Nurdin pun menceritakan semua kejadiannya. Mendengar hal itu, terbetiklah Mariam menyuruh Nurdin meminjam uang pada Mansur sebanyak 10 juta. Hari itu juga Nurdin disuruhnya pergi ke pasar untuk membeli segala keperluan hidupnya. Mulai saat itu, Mariam bekerja menyulam ikat pinggang sutra di rumah, sedangkan Nurdin menjualnya ke pasar. Demikianlah pekerjaan itu dijalaninya hingga Nurdin berhasil mengembalikan uang Mansur dari hasil jerih payah Mariam menyulam ikat pinggang.
Diceritakanlah tentang Menteri Ur yang ditugasi Raja mencari Mariam telah sampai ke Iskandariah.
Menyadari hal itu, Mariam berpesan kepada Nurdin untuk tidak menjual ikat pinggang kepada orang
Pranja. Firasat Mariam akan berpisah dengan Nurdin timbul tatkala terpandang olehnya kedatangan
Menteri Ur. Pada suatu hari, saat Nurdin pergi ke pasar ia dihadang orang Pranja yang hendak
membeli ikat pinggang. Dengan tipu muslihatnya, orang Pranja membuat Nurdin mabuk dalam
perjamuan, sehingga mereka berhasil mendapatkan berita tentang keberadaan Mariam. Nurdin dibuat
mabuk agar mau menjual Mariam kepada orang Pranja. Nurdin telah tertipu dan menyesal, tetapi
apa daya semua telah terjadi. Walaupun Mariam tidak mau pulang, Menteri Ur memaksanya dan
berhasil membawa Mariam pulang. Nurdin berusaha menyusulnya dengan menumpang sebuah kapal.
Dikisahkan sejak kepergian Nurdin, ayahnya sangat bersedih. Rumah dan tokonya dijual dan
dibelinya kapal untuk mencari anaknya, Nurdin. Dalam perniagaan, sampailah saudagar Tajuddin
ke Iskandariah dan didapatkanlah berita tentang anaknya yang sudah lari mengejar Mariam setelah
menikahi saudagar Surati. Saudagar Tajuddin berpesan kepada Mansur agar membawa Nurdin
ke Bagdad kelak bila sudah kembali karena ia akan membuka perkampungan di sana.
Tersebutlah Mariam yang telah dibawa lari Menteri Ur. Ia menangis tiada hentinya karena teringat
kekasihnya, Nurdin. Begitu sampai di Pelabakan,
Menteri Ur segera memberitahukan kedatangannya membawa pulang Mariam yang telah dilarikan
dan dijual oleh orang Iskandariah. Raja akhirnya mengadakan selamatan untuk kepulangan putrinya.
Karena dendam, Raja kemudian memerintahkan untuk merampok semua kapal Islam yang datang
dan membunuh semua awak kapalnya. Kapal yang ditumpangi Nurdin ikut tertangkap dan semua awak kapalnya dibunuh, kecuali Nurdin karena ada orang tua yang memohon kepeda Raja untuk dijadikan penunggu gereja.
Ketika menjadi penunggu gereja inilah, ia bisa bertemu dengan Mariam dan keduanya sepakat
untuk melarikan diri ke Iskandariah sambil melarikan peti nazar. Sampai di Iskandariah, Nurdin
menitipkan peti nazar di rumah Mansur. Mariam ditinggal sendirian di tepi laut. Saat itulah datang
Menteri Ur bersama Habib yang tengah mencarinya.
Melihat kedatangan Menteri Ur, Mariam berontak hingga berhasil membunuh adiknya sendiri, Habib.
Mariam lalu dikurung dan berhasil diringkus terikat dengan tali. Dalam keadaan terikat, Mariam
kembali dirayu oleh Menteri Ur untuk dijadikan istrinya. Bujukan itu akhirnya diterima Mariam
dengan syarat perkawinannya dilaksanakan setelah sampai di Pranja. Mengetahui Mariam dilarikan
Menteri Ur. Nnurdin segera menyusulnya dengan menaiki sebuah sampan. Sampan yang dinaiki
Nurdin akhirnya ditangkap pengikut Menteri Ur dan dibawa ke Pranja. Menteri Ur memerintahkan agar orang tangkapan dimasukkan ke dalam kandang kuda dalam keadaan dirantai. Pada suatu malam, dalam tidurnya Nurdin didatangi oleh seorang tua yang mengajarinya bagaimana mengobati kuda
Raja yang sedang sakit dengan delima muda. Berkat pengobatan Nurdin, kuda kesayangan Raja Pranja berhasil disembuhkan dan sebagai imbalannya Nurdin segera dibebaskan dan dikeluarkan dari
kandang kuda. Suatu hari bertemulah Mariam dengan Nurdin yang saat itu mendendangkan sebuah pantun. Untuk kedua kalinya, Mariam dan Nurdin sepakat untuk melarikan diri dari Pranja. Setelah tiba hari yang telah disepakati, Nurdin dengan kedua kuda kesayangan Raja menunggu Mariam di belakang gereja. Mariam dengan lihainya mengelabui dayang-dayang dan berhasil membunuh Menteri Ur dan mengambil semua perhiasannya. Malam itu juga keduanya melarikan diri.
Mengetahui Mariam dan Nurdin sudah lari serta berhasil membunuh Menteri Ur. Raja menitahkan
kedua anaknya yang bernama Nasir dan Nazib beserta dengan 1000 prajurit untuk menangkap
Mariam. Namun, sial bagi kedua putra raja itu.
Mereka terbunuh oleh Mraiam dan prajurit yang masih hidup melarikan diri. Selamatlah Nurdin
dan Mariam. Kemudian, mereka berkuda menuju Iskandariah. Demikian juga diri Mariam. Sebaliknya, Mansur pun menceritakan pertemuannya dengan ayah Nurdin dan segera mengajak Nurdin pergi ke Bagdad menemui kedua orang tuanya.
Kedatangan rombongan Nurdin disambut meriah oleh saudagar Tajuddin. Saudagar Tajuddin kemudian menikahkan putranya, Nurdin, dengan Mariam dan dirayakan selama 40 hari. Sejak pernikahan itu, Mariam dan Nurdin berjanji untuk sehidup semati akan bersama hingga akhir hayatnya.
Comments
Post a Comment